Pengertian Prototype, Jenis, Contoh, Manfaat hingga Kelebihan dan Kekurangan Prototype

Bisa kita lihat bahwa pengembangan produk berbasis software saat ini mengalami perkembangan. Sebab secara kasat mata kita bisa melihatnya dari segi tampilan dan fokus pada pengalaman pengguna.

Sekarang lebih dikenal dengan UI/UX Design, dimana dalam proses pembuatannya akan mengarah pada sebuah aplikasi prototype untuk mengetahui secara dini bentuk dari produk yang akan dikembangkan.

Lantas yang kemudian menjadi pertanyaan adalah bagaimana proses pembuatan prototype? Atau bahkan apa sebenarnya yang dimaksud dengan prototype itu sendiri?

Agar sama-sama belajar, yuk simak ulasan mengenai pengertian prototype, jenis, metode pembuatan, contoh, manfaat hingga kelebihan dan kekurangan prototype berikut!

Pengertian Prototype

Pengertian umum dari prototipe adalah desain desain sistem yang membentuk model dan ukuran standar atau skalabilitas yang akan dikerjakan nantinya. Setiap pengembang dan pengguna dapat berinteraksi langsung dengan model tanpa harus membuat produk nyata.

Prototipe sistem yang dibangun menyesuaikan dengan kebutuhan awal pengembangan perangkat lunak untuk mengetahui beberapa fitur dan fungsi yang telah didefinisikan sebelumnya.

Sehingga mampu mendeteksi kesalahan secara dini sebelum mengimplementasikan dan merilis produk secara keseluruhan.

Tujuan utama dari pembuatan prototype sendiri agar produk yang akan dirilis sesuai dengan permintaan pengguna atau pasar.

Sehingga peran dari prototype itu sendiri adalah menjadi penghubung antara produsen dan konsumen untuk dapat mewujudkan produk berupa software yang sesuai dan tepat guna.

Selain itu, memiliki prototipe sendiri dapat menghemat biaya produksi dan tidak memerlukan proses “trial and error”. Sehingga dapat mengurangi waktu pengerjaan dan beban yang harus dikeluarkan oleh tim pengembang.

Jenis Prototype dalam Desain UX

Prototype sendiri sangat erat kaitannya dengan penyusunan UX Design. Dimana model akhir dari pengembangan UX (User Experience) adalah prototype.

Berikut adalah beberapa jenis model prototipe berdasarkan UX Design.

1). Sketsa

Sketsa ialah gambar yang dapat dibuat dengan menggunakan pensil atau bantuan alat tulis lainnya di atas kertas.

Biasanya sketsa ini dilakukan tanpa memerlukan biaya yang mahal. Sebab sketsa digunakan untuk tahap desain awal untuk merancang suatu produk.

Sketsa itu sendiri berfungsi untuk mengetahui beberapa kelemahan desain yang dapat menimbulkan masalah dari segi pengalaman pengguna.

Sketsa juga merupakan contoh prototipe kesetiaan rendah. Artinya bahwa desainer dapat dengan cepat merekayasa ulang proyek desain dengan biaya lebih rendah.

2). Wireframe

Wireframe adalah sebuah konsep yang berpusat pada penyusunan layout desain, yang dalamnya terdapat elemen-elemen berupa konten. Kebanyakan model wireframe menggunakan skala abu-abu dan hitam.

Jenis ini juga termasuk dalam low-fidelity, dimana pembuatan sketsa dapat dilakukan dengan bantuan alat bantu. Alat bantu yang biasanya digunakan seperti Whimsical, Balsamiq, Figma dan lain-lain.

Proses wireframing sendiri tidak membutuhkan waktu yang lama ya. Sehingga tim desainer umumnya menerapkannya pada kebutuhan proyek yang ringan.

3). Maket

Makte merupakan desain yang dibuat secara utuh berdasarkan kombinasi warna, layout, tipografi, dan konten di dalamnya. Maket sendiri dapat merepresentasikan produk dengan lebih jelas dan terlihat nyata.

Maket juga termasuk dalam high fidelity, dimana proses pembuatannya akan memakan waktu lebih lama dari dua jenis sebelumnya.

Namun hasil yang diperoleh lebih spesifik untuk dapat memberikan contoh produk yang mendekati kebutuhan pengguna.

Metode Pembuatan Prototype

Setelah memahami pengertian dan jenisnya, mari kita lihat tahapan dari metode prototyping.

Adapun metode prototyping yang dilakukan oleh tim desainer adalah sebagai berikut:

1). Melakukan pengumpulan informasi dan observasi awal.

2). Membuat prototype berdasarkan hasil analisis yang diperoleh.

3). Melakukan proses evaluasi terhadap prototype yang telah dibuat.

4). Melakukan pengujian (testing) terhadap produk prototype yang telah dibuat.

5). Lakukan pengujian ulang sistem sebelum memasuki rilis prototipe.

6). Menguji sistem pembuatan prototipe kepada pengguna dan pemangku kepentingan terkait.

Contoh Pembuatan Produk Prototype

Selanjutnya, mari kita lihat beberapa contoh pembuatan prototype sistem dalam membangun produk aplikasi.

1). Pembuatan Prototipe Kertas

Merupakan contoh desain yang dibuat dengan bantuan media kertas dan alat tulis sederhana seperti pensil atau pulpen.

Hasil akhir dari perancangan produk ini mampu memberikan beberapa pilihan terkait kekurangan dari segi tampilan dan fungsionalitas produk.

2). Fidelitas Rendah (Rendah-Fi)

Contoh kedua, pengguna dapat berinteraksi langsung dengan desain. Namun tampilan yang diberikan masih berupa sketsa dengan warna dominan hitam atau abu-abu.

Walaupun begitu, tapi tetap mampu memberikan gambaran tentang jalannya proses interaksi melalui beberapa elemen yang ditampilkan.

3). Fidelitas Tinggi (Hi-Fi)

Merupakan desain dengan tampilan visual yang lebih kompleks dan dapat mewakili produk dari sisi UI dengan menggabungkan pengalaman pengguna yang lebih nyaman dan baik.

4). Prototipe HTML

Cara ini cukup rumit jika dibandingkan dengan ketiga cara sebelumnya. Hal ini dikarenakan prototype jenis ini diperuntukan bagi para desainer yang memiliki skill dan pemahaman lebih terkait coding dan bahasa pemrograman.

Metode ini terdiri dari HTML dasar yang dapat menghemat waktu untuk proses pembuatan. Dengan metode ini, diharapkan akan memudahkan pengembangan prototipe di masa depan.

Manfaat Memiliki Prototype

Banyak sekali manfaat dan keuntungan yang bisa didapatkan dari penggunaan sistem prototyping. Adapun beberapa manfaat yang dimaksud diantaranya sebagai berikut:

1). Mampu Mengetahui Kebutuhan Pengguna Sejak Awal

Dengan implementasi prototipe, tim pengembang dan desainer dapat mengetahui apa yang menjadi prioritas kebutuhan pengguna untuk menciptakan produk yang lebih sesuai.

Sehingga proses pengembangan lebih cepat dan dapat menyesuaikan tenggat waktu yang diberikan oleh klien.

2). Dapat Menghemat Biaya Pengembangan Produk

Keuntungan kedua adalah dapat menghemat dan mengurangi biaya pengembangan seminimal mungkin. Dengan demikian, alokasi dana dapat digunakan untuk kebutuhan lain.

3). Dapatkan Gambaran yang Lebih Konkrit

Manfaat terakhir dengan adanya prototype, dapat memberikan gambaran yang lebih nyata dan konkrit dengan membuat tampilan sketsa baik dengan fidelitas rendah maupun tinggi.

Kelebihan dan Kekurangan Prototype

Selain itu, pelanggan mendapatkan feel yang lebih baik daripada dokumen atau tulisan. Lalu apa kelebihan dan kekurangan dari prototyping?

Sama seperti profesi lainnya, profesi ini juga memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Kelebihan Prototype

Berikut dibawah ini kelebihan prototype, antara lain sebagai berikut.

1). Pelanggan mengetahui apa yang dibutuhkan serta diharapkan.

2). Memiliki penentuan kebutuhan yang lebih mudah.

3). Waktu yang singkat.

4). Pengembang mendapatkan masukan dari pelanggan saat membuat prototipe.

5). Setelah proyek selesai, Anda sebagai pengembang menjadi langganan.

6). Dapatkan bantuan dalam mengurangi biaya pengembangan secara keseluruhan.

7). Mendapatkan tingkat kepuasan dari pelanggan lama dan baru.

8). Pengembang semakin cepat menggunakan alat yang mereka perlukan di masa mendatang.

9). Mempersingkat waktu pengembangan.

Kekurangan Prototype

Berikut dibawah ini kekurangan prototype, antara lain sebagai berikut.

1). Dapat mengesampingkan alternatif pemecahan masalah.

2). Tidak selalu prototype yang telah dibuat dapat disesuaikan dengan mudah.

3). Dalam analisis singkat dan pengolahan desain.

Demikian artikel kami mengenai pengertian prototype, jenis, metode pembuatan, contoh, manfaat hingga kelebihan dan kekurangan prototype.

Semoga ulasan kami dapat membantu, khususnya menambah wawasan kamu mengenai prototype. Terimakasih sudah berkunjung

Berita terkait:
JANGAN LEWATKAN