Niat Sholat Isya dan Tata Cara Pelaksanaannya

Sholat isya merupakan salah satu sholat fardu atau wajib yang harus dilaksanakn oleh setiap muslim dan muslimah yang sudah masuk baligh. Sholat isya terdiri dari 4 rakaat dikerjakan pada waktu malam hari.

Adapun batas waktu sholat isya adalah sampai habisnya malam menjelang fajar, namun diutamakan bagi kita untuk selalu mengerjakan sholat fardu tepat waktu yakni ketika adzhan selesai dikumandangkan.

Hukum menunda-nunda sholat isya hingga akhir waktu yakni menjelang fajar (sekitar 30 menit sebelum masuknya waktu sholat subuh) dianggap tidak disukai bahkan makruh, sekalipun masih ada waktu, maka apabila kita tidak memiliki udzur hendaknya melaksanakan sholat isya tepat waktu.

Dibawah ini adalah Niat dan Tata Cara Melakukan Sholat Isya

Niat Sholat Isya

Berikut dibawah ini niat sholat isya, antara lain sebagai berikut.

– Niat melakukan sholat isya apabila dikerjakan sendirian

أُصَلِّى فَرْضَ العِشَاء أَرْبَعَ رَكَعاَتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لله تَعَالَى

Artinya: ”Aku niat melaksanakan sholat isya empat rakaat menghadap kiblat wajib karena Allah Ta’ala.”

– Niat melakukan sholat isya apabila dikerjakan berjamaah sebagai imam

أُصَلِّى فَرْضَ العِشَاء أَرْبَعَ رَكَعاَتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءًإِمَامًالله تَعَالَى

Artinya: ”Aku niat melaksanakan sholat isya empat rakaat menghadap kiblat menjadi imam wajib karena Allah Ta’ala.”

– Niat melakukan sholat isya apabila dikerjakan berjamaah dan sebagai makmum

أُصَلِّى فَرْضَ العِشَاء أَرْبَعَ رَكَعاَتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءًمَأْمُوْمًالله تَعَالَى

Artinya: ”Aku niat melaksanakan sholat isya empat rakaat menghadap kiblat menjadi makmum wajib karena Allah Ta’ala.”

Tata Cara Melakukan Sholat Isya

Berikut dibawah ini tata cara melakukan sholat isya, antara lain sebagai berikut.

Tata cara melakukan sholat isya sama saja dengan mengerjakan sholat-sholat fardu lainnya perbedaannya hanya terletak pada jumlah rakaat dan niatnya.

A). Niat

Sebagaimana disebutkan diatas niat sholat isya bisa kita lafalkan sesuai dengan fungsinya, apakah sholat sendiri, berjamaah sebagai imam atau berjamaah sebagai makmum.

B). Mengangkat kedua belah tangan sambil membaca takbiratul ihram.

اللَّهُ أَكْبَرُ

Artinya:“Allah Maha Besar.”

C). Membaca doa iftitah

Ada beberapa bacaan doa iftitah yang umum dibacakan yaitu:

– Pertama

اللهُ اَكْبَرُ كَبِرًا وَالْحَمْدُ لِلهِ كَشِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَاَصِيْلًا . اِنِّى وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَالسَّمَاوَاتِ وَالْااَرْضَ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا اَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ . اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلهِ رَبِّ الْعَا لَمِيْنَ . لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَبِذَ لِكَ اُمِرْتُ وَاَنَ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

Artinya: ”Allah Maha Besar dengan sebesar besarnya. Segala puji yang sebanyak banyaknya bagi Allah. Maha Suci Allah pada pagi dan petang hari. Aku menghadapkan wajahku kepada Tuhan yang telah menciptakan langit dan bumi dengan segenap kepatuhan dan kepasrahan diri, dan aku bukanlah termasuk orang orang yang menyekutukan-Nya.”

– Kedua

اللَّحُمَّ بَا عِدْ بَيْنِى وَبَيْنَ خَطَا يَاىَ كَمَا بَاعَدْتْ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ , اللَّهُمَّ نَقِّنِى مِن الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوبُ الاَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ , اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَاىَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ

Artinya: ”Ya Allah, jauhkan antara aku dan kesalahan-kesalahanku, sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dan kesalahan kesalahanku, sebagaimana baju putih dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, cucilah aku dari kesalahan kesalahanku dengan salju, air dan air es.”

D). Membaca Al-qur’an surat Al-fatihah ayat 1 – 7

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم . ١

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ . ٢
الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ . ٣
مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ . ٤
اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ . ٥
اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ . ٦
صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ . ٧

Artinya:”

  1. Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
  2. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
  3. Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
  4. Yang menguasai hari pembalasan.
  5. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.
  6. Tunjukilah kami ke jalan yang lurus.
  7. (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka. Bukan (jalan) mereka yang Engkau murkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”

E). Membaca surat pendek dalam Al-qur’an, misalnya surat Al-falaq

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ . ١
مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ . ٢
وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ . ٣
وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ . ٤
وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ . ٥

Artinya:”

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

  1. Katakanlah aku berlindung kepada Allah yang menguasa subuh (fajar).
  2. Dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan.
  3. Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita.
  4. Dan dari kejahatan (perempuan-perempuan) penyihir yang meniupkan pada buhul-buhul (talinya).
  5. Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki.”

F). Setelah membaca Al-fatihah dan surat Al-qur’an lainnya kemudian takbiratul ihram seraya mengangkat kedua belah tangan اللَّهُ أَكْبَرُ kemudian rukuk (badan membungkuk. Kedua tangan memegang lutut posisi punggung dan kepala rata sambil membaca lafadz:

سُبْحَانَ رَبِّي العَظِيم

Artinya: ”Maha Suci Tuhanku yang Maha Besar.”

G). Setelah rukuk kemudian bangkit dangan mengangkat kedua belah tangan dan I’tidal. Bacaan ketika mengangkat kedua belah tangan setelah rukuk,

سمع الله لمن حمده

Artinya: “Allah Maha Mendengar terhadap orang yang memuji-Nya.”

Dilanjutkan dengan bacaan I’tidal yaitu:

ربنا لك الحمد ملء السموات وملء الأرض وملء ما شئت من شيء بعد

Artinya: ”Ya Allah Tuhan kami bagi-Mu segala puji sepenuh langit dan bumi, dan sepenuh sesuatu yang Engkau kehendaki setelah itu.”

H). Sujud (meletakan dahi kebumi dengan mendahulukan lutut atau tangan) setelah selesai I’tidal kemudian sujud sambil mengucapkan اللَّهُ أَكْبَرُ . Bacaaan sujud yaitu:

سُبحانَ ربِّيَ الأعلى

Artinya: ”Maha Suci Tuhanku yang Maha Tinggi.”

I). Duduk antara dua sujud, setelah melakukan sujud pertama kemudian bangkit sambil mengucapkan اللَّهُ أَكْبَرُ lalu membaca bacaan duduk diantara dua sujud yaitu:

رَبِّ اِغْفِرْ لِي, وَارْحَمْنِي, وَاهْدِنِي, وَارْزُقْنِي, وَاجْبُرْنِي وَعَافِنِي

Artinya: ”Wahai Rabbku, ampunilah aku, rahmatilah aku, berilah petunjuk kepadaku, berilah rezeki kepadaku, cukupkanlah aku, dan selamatkanlah aku (dari berbagai macam penyakit).”

J). Sujud kedua, setelah selesai membaca bacaan duduk diantara dua sujud kemudian sujud kedua sambil mengucapkan اللَّهُ أَكْبَرُ Bacaan sujud kedua sama dengan ketika kita sujud pertama سُبحانَ ربِّيَ الأعلى

K). Kemudian berdiri untuk rakaat ke-2 sambil membaca اللَّهُ أَكْبَرُ lalu kembali membaca surat Al-fatihah.

L). Membaca surat pendek dalam Al-qur’an (dirakaat kedua) misalnya surat An-nas:

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ . ١
مَلِكِ النَّاسِ . ٢
إِلَٰهِ النَّاسِ . ٣
مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ . ٤
الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ . ٥
مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ . ٦

Artinya:”

Dengan menyebuat nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

  1. Katakanlah aku berlindung pada Tuhannya manusia
  2. Rajanya manusia
  3. Tuhannya manusia
  4. Dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi
  5. Yang membisikan (kejahatan) ke dalam dada manusia
  6. Dari (golongan) jin dan manusia

M). Rukuk dirakaat ke-2, sama dengan tata cara ketika rukuk dirakaat pertama begitupun dengan bacaanya.

N). Sujud pertama rakaat ke-2 (praktik dan bacaannya sama dengan sujud di rakaat pertama).

O). Duduk diantara dua sujud rakaat ke-2 (praktik dan bacaannya sama dengan sujud di rakaat pertama).

P). Sujud kedua rakaat ke-2 (praktik dan bacaannya sama dengan sujud di rakaat pertama).

Q). Tasyahud awal, setelah menyelesaikan dua rakaat kemudian duduk untuk membaca tahiyatul awal sebelum berdiri untuk rakaat ke-3:

اَلتَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ للهِ، السَّلاَمُ عَلَيْكَ اَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِاللهِ الصَّالِحِيْنَ، أَشْهَدُ اَنْ لآ إِلَهَ إِلاَّاللهُ وَاَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهُ، اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

Artinya: ”Segala kehormatan, dan keberkahan, kebahagiaan dan kebaikan itu milik Allah. Keselamatan atas engkau wahai Nabi Muhammad, demikian pula rahmat engkau dan berkah-Nya. Keselamatan dicurahkan pula untuk kami dan atas seluruh hamba Allah yang shaleh – shaleh. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah.

R). Kemudian berdiri untuk rakaat ke-3 sambil membaca اللَّهُ أَكْبَرُ lalu kembali membaca surat Al-fatihah, praktiknya sama dengan rakaat pertama hingga berdiri kembali sampai rakaat ke-4 (pada rakaat ke-3 dan ke-4 tidak membaca surat pendek).

S). Tasyahud (Tahiyatul Akhir), setelah menyelesaikan empat rakaat ketika bangkit dari sujud yang kedua dirakaat ke-4 kemudian duduk untuk membaca tahiyatul akhir:

اَلتَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ للهِ، السَّلاَمُ عَلَيْكَ اَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِاللهِ الصَّالِحِيْنَ، أَشْهَدُ اَنْ لآ إِلَهَ إِلاَّاللهُ وَاَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهُ، اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَرَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِى الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

Artinya: ”Segala kehormatan, dan keberkahan, kebahagiaan dan kebaikan itu milik Allah. Keselamatan atas engkau wahai Nabi Muhammad, demikian pula rahmat engkau dan berkah-Nya. Keselamatan dicurahkan pula untuk kami dan atas seluruh hamba Allah yang shaleh – shaleh. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Ya Allah limpahilah Rahmat-Mu kepada Nabi Muhammad. Ya allah limpahilah Rahmat atas keluarga Nabi Muhammad. Sebagai mana telah Engkau beri Rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Dan limpahilah berkah atas Nabi Muhammad beserta para keluarganya sebagaimana Engkau telah memberi berkah kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Bahwasanya Engkau Tuhan yang sangat Terpuji lagi sangat Mulia di seluruh alam.”

T). Setelah selesai mambaca tahiyatul akhir kemudian salam dengan menghadapkan mukakita ke kanan:

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Artinya: ”Semoga Allah melimpahkan keselamatan, Rahmat dan Keberkahan kepadamu.”

Lalu menghadapkan wajah kita ke kiri sambil mengucapkan salam yang sama.

Berita terkait:
JANGAN LEWATKAN