Keluarga Sule Sudah Tajir Melintir, Teddy Pardiyana hingga Kini Tak Diberi Warisan, Inilah 3 Dosa Besar Rebutan Warisan!

Subtitle goes here

By:

Oktober 30, 2021

Shares

0.0 of 0 Users
Loading...

Nasib suami mendiang Lina Jubaedah, Teddy Pardiyana, kembali menjadi sorotan.

Pasalny, setelah lama tak tampil di publik, Teddy Pardiyana muncul dalam kondisi tubuh yang semakin kurus.

Usut punya usut, Teddy kehilangan berat badannya sebanyak 20 kg.

Bukan cuma itu, kulit tubuh Teddy juga menghitam. Dia pun kini tinggal di sebuah rumah gubuk bambu yang jauh dari keramaian dan tertutup ilalang.

Sejak Lina Jubaedah meninggal dunia pada Januari 2020, Teddy memang berjuang membesarkan anak mereka seorang diri.

Dedek Bintang, anak Teddy dan Lina, masih usia 2 bulan saat ditinggalkan Ibunya.

Teddy juga diketahui terlibat selisih dengan Rizky Febian mengenai harta warisan.

Hingga saat ini, hak warisan untuk anaknya masih belum diberikan.

Sementara Teddy Pardiyana mengaku kesulitan mencari pekerjaan, karena terlalu sibuk mengurus Bintang.

Meski demikian, Teddy tidak lagi mempersoalkan pekara warisan.

Prioritasnya saat ini adalah fokus membesarkan Bintang dengan baik.

“Susah emang buat ngegantiin sosok seorang ibu,” kata Teddy Pardiyana, dikutip dari YouTube SCTV yang tayang Selasa, (26/10/2021).

“Saya lebih fokus ke anak aja sampai sekarang turun 20 kilogram. Itulah tugas seorang ibu, malam harus stand by,” tambah dia.

Terkait pekerjaan, Teddy juga kesulitan karena selama ini pengalaman kerjanya bukan di Indonesia.

“Karena saya dulu banyak kerja di luar, ngelamar di Indonesia susah. Jadi ya emang selama 2 tahun ini fokus ngurus dedek aja,” katanya.

Warisan pun Teddy sudah ogah memperdebatkan.

“Harta hak waris sampai sekarang juga belum dibagiin sampai dua tahun lebih, Udah tugas lawyer, saya engga mikirin ke sana, saya fokus ke si Dedek,” tutup Teddy.

Tiga dosa besar berebut Warisan

Adapun dikutip dari Banjarmasin Post, berebut harta warisan disebut dapat mendatangkan dosa besar.

Harta warisan yang ditinggalkan orangtua seringkali justru menjadi sebab perselisihan dalam keluarga bahkan berakhir dengan perpecahan.

Hukum mengenai waris sudah ditetapkan dalam Islam melaui Al-quran dan hadist, namun seringkali rasa tidak adil, tidak puas, iri, dan kecewa menggerogoti hati manusia dan menyebabkan perebutan warisan antar saudara.

Dikutip dari YouTube Al-Bahjah TV Buya Yahya menjelaskan bahwa terdapat 3 dosa besar yang berawal dari rebutan hak waris.

Ada sebuah hadist berbunyi, “Setan ingin menanamkan kebencian dari yang namanya harta peninggalan ini.”

Buya Yahya mengatakan, berebut warisan dapat mendatangkan tiga dosa besar sekaligus.

“Dan kalau sudah orang merebut waris ini melalukan dosa gede tiga langsung,” kata dia.

“Yang pertama adalah dosa merebut harta saudaranya dosa gede,” lanjutnya.

“Yang kedua memutus tali persaudaraan dosa gede. Yang ketiga adalah (me)nyakiti hati orang tuanya,” ujarnya.

Tiga dosa besar itu dapat membuat manusia dijebloskan ke neraka jahannam.

“Cukup satu saja Allah masukkan (mereka) ke neraka jahanam,” ungkap Buya Yahya.

Namun, dapatkah dosa-dosa ini dihindari oleh orang yang rajin beribadah?

Buya Yahya mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW sudah menyebutkan bahwa berebut warisan lebih rusak daripada serigala.

Bagi orang yang rajin beribadah pun, tak jarang terjerat silaunya harta warisan.

“Kalau orang punya sifat semacam itu sudah, kelihatan khusyuk, ahli sholat, ahli ibadah, ternyata dia adalah orang yang sangat jahat hatinya. Bahkan bukan hanya saja orang bodoh, orang alim pun bisa masuk wilayah ini, hati-hati,” kata Buya Yahya.

Oleh karenanya, Buya Yahya meminta agar umat Islam waspada terhadap godaan harta warisan.

“Kalau sudah berbuat waris coba, bukan hanya orang yang kaya. Jangan sampai yang fakir merasa aman, sebab yang gede setannya, yang menggoda,” kata Buya Yahya.

“Yang direbutkan kadang bukan sesuatu yang berharga. Mungkin meja yang sudah retak, sudah lapuk, mungkin kaki sudah patah, mungkin kursi yang sudah pada patah kakinya, yang diperebutkan adalah sesuatu yang sudah tidak bernilai, tapi lihat semangatnya berebut itu luar biasa.”

“Bahkan, kalau yang namanya waris itu, sesuatu yang semula tidak berharga itu giliran dimanfaatkan, eh, saudaranya itu jadi kecewa, jadi marah,” lanjutnya.

Ia mencontohkan misalnya orangtuanya meninggalkan barang-barang yang sudah tidak layak dan di simpan di gudang, seperti karpet atau perabotan yang sudah rusak.

Lalu ada salah satu dari saudara tersebut yang mengambilnya dari gudang dan membersihkannya, kemudian dipajang di rumahnya.

“Di pajang kelihatan bagus setelah itu. Itu lihat, yang semula tidak memperhatikan gara-gara lihat panci atau apa pun pindah itu langsung marah. Yang gede setannya.”

“Maka tolong waspada jangan merasa aman diri kita darinya. Dijerumuskan oleh iblis dan setan dalam urusan dunia ini,” tutup Buya Yahya. (*)

Sumber: sosok.id

0 Comment

Comments closed.