9 Cara Budidaya Cabai Rawit Agar Hasil Panen Melimpah

Cabai rawit, atau sering juga disebut dengan cabe rawit adalah komoditas tumbuhan anggota genus Capsicum. Penggunaan cabai rawit sebagai bahan masakan-masakan Indonesia seperti sambal, dan tak jarang juga dikonsumsi secara segar.

Namun tak hanya populer di Indonesia, cabai rawit juga digemari di negara-negara Asia Tenggara. Malaysia dan Singapura menyebut cabai rawit dengan sebutan cili padi, Filipina menyebutnya labuyp, dan di Thailand menyebutnya phrik khi nu. Sementara dalam bahasa Inggris, cabai rawit disebut Thai pepper atau bird’s eye chili pepper.

Dalam budidayanya, kematangan cabai rawit ditandai dengan perubahan warna dari hijau menjadi merah. Cabai rawit identik dengan ukurannya yang jauh lebih kecil dari jenis cabai lainnya, namun tingkat kepedasannya melampaui 50.000 – 100.000 pada skala Scoville.

Kepopuleran cabai rawit menjadikan komoditas tersebut memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Perkembangan dunia usaha kuliner yang masif, disertai dengan kebutuhan rumah tangga, permintaan pasar, bahkan sampai pada kebutuhan ekspor luar negeri menyebabkan kebutuhan cabai rawit terus meningkat setiap tahun.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut dengan mengisi peluang usaha budidaya cabai rawit bernilai ekonomi tinggi dengan kualitas panen yang maksimal, maka perlu dilakukannya budidaya cabai rawit secara tepat. Berikut kami rangkum tahapannya untuk Anda.

1). Syarat Tumbuh

Tanaman cabai rawit dapat ditanam pada tanah dataran rendah sampai menengah dengan ketinggian tanah tidak lebih dari 1400 mdpl.

Untuk pertumbuhan yang optimal, tanaman cabai menghendaki cahaya matahari penuh selama 10 – 12 jam, suhu perkecambahan 25 – 30°C, suhu pertumbuhan 24 – 28°C, curah hujan 800 – 2000 mm/tahun, tingkat kelembaban 80%, dan angin medium.

Sementara tanah ideal untuk pertanaman adalah tanah kaya humus, subur, gembur, terang, lempung berpasir, dan memiliki tingkat kemasaman pH 5 – 6. Apabila tingkat kemasaman kurang, maka dapat dilakukan pengapuran tergantung dari pH tanah yang dikehendaki.

2). Pembibitan

Sebelum ditanam, biji cabai rawit yang sudah masak dan kering harus disemaikan terlebih dahulu. Rendam biji cabai ke dalam air selama 24 jam agar pertumbuhan lebih cepat.

Persemaian biji cabai dapat dilakukan melalui beberapa cara, yaitu menggunakan kotak persemaian, persemaian di lapangan, menggunakan kantong plastik atau kantong dari daun kelapa, enau, pisang, dan sebagainya.

Disarankan, persemaian cabai rawit menggunakan atap dari daun rebu, daun kelapa, maupun daun lain agar semaian lembab dan terhindar dari sinar matahari secara langsung. Atap dapat dibuka atau ditutup sesuai keperluan. Media tanah adalah tanah subur dan bebas dari hama penyakit.

3). Pengolahan Tanah

Pengolahan tanah berupa pembajakan dan pencangkulan tanah (membalikkan dan menggemburkan tanah) sedalam 30 – 40 cm. Setelah itu, tanah diberi pupuk organik, kompos atau pupuk kandang yang ditambahkan dengan pasir.

Apabila pupuk organik terbatas, maka pemberiannya cukup pada jarak 60 x 60 cm, campurkan pupuk organik bersama dengan pasir dan tanah secara merata.

4). Pembuatan Bedengan

Pembuatan bedengan dengan ukuran lebar 90, 100 atau 125 cm dengan memperhatikan kondisi tanah.

Tinggi bedengan 20 – 30 cm, tergantung pada keadaan lahan, apabila lahan sering tergenang air pada musim hujan maka sebaiknya tinggi bedengan ditingkatkan.

Jarak antar bedengan berkisar 40 – 50 cm, atau dapat juga dipersempit menjadi 30 – 35 cm.

5). Pemupukan Dasar

Tersedianya unsur hara dan nutrisi yang cukup sangat berpengaruh pada pertumbuhan. Untuk memenuhi itu, lakukan pemupukan sejak penanaman.

Tanaman cabai rawit dapat diberi pupuk organik berupa pupuk kandang matang yang disebarkan ke seluruh permukaan bedengan, atau hanya ditempatkan pada tanaman cabai yang akan ditanam. Selain pupuk organik, tambahkan pula pupuk SP-36 sebanyak 100 kg/hektar untuk menambah unsur P.

6). Penanaman

Pemindahan bibit cabai dari persemaian ke lahan tanam dilakukan apabila bibit telah mencapai tinggi 15 cm.

Pada saat pengambilan bibit di persemaian, gunakan silet yang ditusukkan dengan cara miring dan diangkat ke atas agar semai terangkat ke atas.

Apabila persemaian berasal dari kantong plastik, maka kantong plastik harus disobek terlebih dulu dengan perlahan agar media tanah tidak pecah dan tanaman tidak layu.

Penanaman dilakukan pada lubang tanam yang dibuat sedalam akar tunggang. Jarak tanam 60 x 90 cm. Setelah penanaman, segera siram dan berikan penutup pelepah pisang atau daun-daunan agar tidak layu.

7). Pemeliharaan

Pemeliharaan terbagi atas beberapa tahapan penting yang mendukung pertumbuhan tanaman hingga panen. Tahapan tersebut terdiri dari penyiraman, penyiangan, penggemburan, dan pemupukan.

Penyiraman penting dilakukan secara masif terutama pada saat musim kemarau. Selain penyiraman, agar tanaman terhindar dari kekeringan, gunakan mulsa dari dedaunan maupun jerami padi. Mulsa dan daun lama kelamaan akan menjadi pupuk organik penambah kesuburan tanah.

Apabila penanaman cabai saat musim hujan, hindari tanaman agar tidak tergenang air, karena akan menyebabkan akar busuk, daun rontok, hingga kematian tanaman.

Penyiangan berupa pencabutan gulma secara hati-hati tanpa merusak tanaman cabai rawit. Untuk mengurangi munculnya gulma, dapat juga menggunakan herbisida sebelum bibit cabai ditanam.

Penggemburan dilakukan pada tanah yang terlalu padat, agar peredaran udaranya lebih baik, dengan cara dicangkul (didangir).

Pemupukan berupa pemupukan susulan yang dapat dilakukan satu minggu setelah tanam, dengan menggunakan pupuk N, P, atau campuran Urea dan KCl sebanyak 2 gram setiap tanaman.

Pada waktu tanaman berumur 2 – 3 minggu setelah tanam, beri lagi pupuk sebanyak 5 gram per pohon.

Pemberian jenis zat perangsang pertumbuhan seperti pupuk beserta dosisnya dapat diberikan sesuai anjuran pada label kemasan.

8). Pengendalian Hama dan Penyakit

Tanaman cabai sering diserang berbagai macam hama dan penyakit. Adapun beberapa gejala dan cara pengendaliannya adalah sebagai berikut.

a). Kutu daun Aphis gossypii

Gejala: Daun tidak normal, kerdil berkerut dan keriting.

Pengendalian:

  • Memijat menggunakan tangan.
  • Insektisida dengan dosis sesuai anjuran.
  • Predator seperti kumbang macan.
  • Kertas aluminium yang memantulkan sinar matahari ke balik daun tempat hama bersembunyi.

b). Thrips tabaci

Gejala: Permukaan daun berwarna putih seperti perak, menggulung, dan keriting.

Pengendalian:

  • Memijat menggunakan tangan.
  • Predator seperti kumbang macan.
  • Kertas aluminium yang memantulkan sinar matahari ke balik daun tempat hama bersembunyi.

c). Lalat buah Dacus dorsalis

Gejala: Bentuk buah buruk, ada benjolan, busuk, dan terdapat larva di dalam.

Pengendalian:

  • Menggunakan sex pheromon seperti metil eugenol untuk memikat lalat jantan, sehingga populasi lalat dapat menurun.

d). Antraknosa

Gejala: Buah busuk lunak, dan berwarna merah hingga coklat muda.

Pengendalian:

  • Biji didesinfeksi menggunakan thiram 0,2% (Benlate).
  • Hindari menanam biji dari buah yang sakit.
  • Fungisida berbahan aktif mankozeb, propineb, dan zineb.

e). Daun keriting chilli

Gejala: Daun keriting dan menguning, serta pertumbuhan kerdil.

Pengendalian:

  • Pencabutan, lalu pembakaran tanaman terserang.
  • Insektisida sistemik secara rutin dengan dosis anjuran sebelum tanaman terserang.

9). Panen dan Pasca Panen

Tanaman cabai rawit dapat dipanen setelah berumur 2,5 – 3 bulan sesudah disemai. Masa panen berlanjut pada 1 – 2 minggu kemudian, tergantung dari kesehatan dan kesuburan tanaman.

Untuk tanaman cabai rawit yang telah dirawat baik, maka tanaman dapat mencapai umur 1 – 2 tahun.

Usai dipanen, cabai rawit disimpan ke dalam ruangan bersuhu 4°C, dengan kelembaban 95 – 98% untuk ketahanan hingga 4 minggu. Sedangkan ruangan bersuhu 10°C untuk ketahanan hingga 16 hari.

Berita terkait:
JANGAN LEWATKAN