6 Cara Budidaya Cabai Merah Agar Hasil Panen Melimpah

Cabai (Capsicum annum L) dan kuliner Indonesia, dua hal yang tak dapat dipisahkan. Sejak dahulu kala, cabai menjadi bahan masakan utama di berbagai macam hidangan khas Indonesia. Salah satunya, sambal.

Bahkan sampai ada yang menganggap, makan terasa tak lengkap bila tanpa sambal. Orang-orang Indonesia memang terkenal penyuka makanan pedas. Itu mengapa kebutuhan cabai pun melonjak dari tahun ke tahun.

Begitu pentingnya cabai sebagai komoditas di Indonesia, menyebabkan cabai sering sekali menjadi faktor pembentuk inflasi. Tercatat beberapa kali momentum masyarakat mengurangi konsumsi cabai disebabkan oleh meroketnya harga cabai di pasaran.

Ketidakstabilan harga cabai bisa disimpulkan akibat dari jumlah produksi nasional, jumlah kebutuhan nasional, jumlah ekspor dan impor cabai yang tidak stabil. Tingginya kebutuhan cabai tidak diimbangi dengan tingkat produktif para petani cabai.

Kondisi tersebut semakin diperparah dengan masih banyaknya para petani atau pembudidaya cabai yang belum menerapkan sepenuhnya kaidah budidaya yang benar. Sehingga, produktivitas pun belum optimal.

Oleh sebab itu, perlu dilakukan perbaikan teknik budidaya mulai dari persiapan lahan, penyiapan sarana produksi pertanian, pemeliharaan, penanganan panen dan pasca panen, serta sistem pemasaran perlu dilakukan agar hasil panen cabai merah melimpah, mempunyai nilai tambah, serta menghasilkan produk yang bermutu dan berdaya saing.

Selain itu, dikarenakan 90% masyarakat mengkonsumsi cabai dalam kondisi segar, maka penting untuk para petani dan pembudidaya cabai menerapkan standar tanam yang sesuai dengan Good Agriculture Practices (GAP), yaitu standar yang mengedepankan keamanan pangan dengan mengurangi penggunaan pupuk dan pestisida kimia, dan beralih menggunakan pupuk kandang dan pestisida nabati.

Peluang bisnis budidaya cabai selalu terbuka lebar, baik pasar bebas maupun industri. Terlebih, rata-rata konsumsi cabai 5 kg/kapita/tahun.

Jika ditekuni dengan serius dan dengan komitmen berbudaya sesuai prosedur, nilai ekonomis yang akan didapatkan pun dapat mencapai ratusan juta.

1). Syarat Tumbuh

Artikel ini berfokus pada cara budidaya cabai merah. Syarat tumbuh yang ideal untuk cabai diantaranya, tanah lahan penanaman mempunyai tingkat keasaman pH berkisar 6-7, tinggi tempat 190 – 600 m dpl, suhu rata-rata 23 – 34°C, dengan curah hujan 100 – 200 mm/bulan. Lingkungan lokasi pertanaman sebaiknya telah tersedia sumber air (embung, sumur ladang, tadah hujan, dan sumur bor).

2). Pembibitan

Tahap pembibitan diawali dengan persemaian di dalam bedengan/rak yang diberi naungan plastik transparan. Dilanjutkan dengan membuat campuran media semai, terdiri dari 2 ember tanah dan 1 ember pupuk kandang 150 gr SP 36 (atau 80 gr NPK), haluskan lalu tambah karbofuran 75 gr, lalu diayak.

Hasil persemaian yang berupa benih, kemudian ditanam dalam polybag ukuran 4 x 6 cm, buat juga lubang semai 0.5 m, dan ditutup tahan halus atau abu.

Komposisi persemaian tersebut dapat menghasilkan 300 – 400 benih polybag. Setelah 17 – 21 hari, bibit sudah dapat dipindah ke lahan tanam.

Selama masa perawatan bibit, jangan beri pupuk, cukup gunakan insektisida dan fungisida dengan dosis yang telah disarankan. Namun jika tidak ditemukan hama dan jamur, sebaiknya jangan lakukan penyemprotan apapun.

3). Mempersiapkan Lahan

Sebelum masa tanam, persiapkan lahan kurang dari 10 hari. Tahap persiapan terdiri dari pengukuran keasaman yang ideal sesuai syarat tumbuh, pemberian kapur dosis 4-5 ton/ha, pembajakan dengan traktor atau cangkul di kedalaman 30 – 40 cm, pembersihan gulma, penaburan pupuk kandang sebanyak 20 – 30 ton/ha, pembuatan bedengan dengan lebar 110 – 120 cm, tinggi 30-40 cm, dan jarak antar bedeng 60 – 70 cm. Terakhir, taburkan pada lahan pupuk dasar Urea/ ZA 500, SP-36 300, KCL 20.

Untuk mencegah tanaman cabai ditumbuhi oleh gulma atau tanaman pengganggu lain, serta menjaga kelembaban tanah, pasang mulsa berupa plastik. Pemasangan boleh dilakukan saat terik matahari. Pastikan pemasangan ketat rapi dan tidak kendur. Panjang mulsa disesuaikan dengan panjang bedengan.

4). Masa Penanaman

Sehari sebelum waktu penanaman, alirkan air di lahan, dilanjutkan dengan pembuatan lubang tanam pada mulsa. Tahap penanaman dapat dilakukan pada pagi dan sore hari dengan tahapan berikut, pertama, lepaskan polybag secara perlahan tanpa merusak akar.

Kemudian tanam dan siram secukupnya. Lalu tutup dengan tanah bila akar terlihat, pastikan tidak ada sedikitpun rongga antara tanah dengan plastik mulsa.

Pupuk diberikan 2 minggu setelah tanam, dengan mengkocorkan pupuk NPK atau pupuk yang memiliki unsur nitrogen, diencerkan dengan air 10 liter, untuk skala 40 tanaman.

Pemupukan diulangi tiap 10 – 14 hari sekali, tergantung pada kondisi tanaman cabai. Setelah umur tanaman mencapai 50 – 65 hari dan 115 hari, tanaman wajib diberi pupuk susulan granular 1 sendok.

5). Pengendalian Hama dan Penyakit

Tanaman cabai dapat terjaga dari serangan hama dan penyakit dengan menerapkan langkah-langkah pembersihan lahan secara teratur, memperhatikan kebersihan air dan perkakas, monitoring, menyingkirkan tanaman atau bagian tanaman yang sakit, penindakan cepat saat terserang, seperti menggunakan pestisida tepat waktu, sasaran, dan dosis, namun perlu diingat, penggunaan pestisida harus melewati tahap evaluasi dan pengamatan secara matang. Bagaimanapun, penggunaan bahan kimia seperti pestisida harus diminimalisir.

6). Masa Panen

Tanaman cabai dipanen dengan cara memetik buah cabai. Terdapat dua jenis kematangan cabai, yaitu buah cabai yang memiliki warna merah penuh 100%, biasanya untuk dijual ke industri pengolahan cabai, dan buah cabai yang memiliki warna merah 80%, biasanya untuk dijual langsung ke pasar.

Berita terkait:
JANGAN LEWATKAN